Selasa, 20 Mei 2008

Tugas Mata Kuliah Teknologi Informasi, Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan Unmul,Kelas Bontang Th.2008




WIWIN KUSUMAWATI (prog.pascasarjana Unmul, kelas Bontang)



TUGAS MATA KULIAH "TEKNOLOGI INFORMASI"



DOSEN : IR. MOHAMAD ADRIYANTO, M S M


PERMASALAHAN PENDIDIKAN NASIONAL
(oleh Wiwin Kusumawati)

Di Indonesia, pendidikan masih tetap sebuah beban berat, bahkan sudah di stigmata sebagai "kegelisahan sepanjang zaman" (Sindhunata 2001).

Untuk menjawab hal tersebut maka pemahaman tentang permasalahan

dunia pendidikan nasional adalah suatu keniscayaan:

Pemerataan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah yang belum tercapai,

Kualitas pendidikan yang masih rendah dan

Kurangnya efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pendidikan.

Rendahnya relevansi pendidikan

Pemerataan Akses Pendidikan

Pemerataan pendidikan merupakan isu paling kritis karena berkait erat dengan isu sensitif, yakni keadilan dalam memperoleh akses pendidikan. Memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak asasi setiap warga bangsa yang dijamin konstitusi. Maka, pemerintah wajib memberi pelayanan pendidikan yang baik kepada seluruh masyarakat. Keberhasilan pelayanan pendidikan dapat dilihat dari angka partisipasi.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2003, angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD, SMP, dan SMA berturut-turut adalah 92,6 persen, 63,5 persen, dan 40,6 persen. Meski APM pada jenjang SD sudah cukup tinggi, pada jenjang lanjutan (SMP dan SMA) angka yang dicapai masih rendah. Bila angka-angka itu dielaborasi berdasar kategori desa-kota, status sosial-ekonomi (kaya-miskin), dan provinsi (Jawa-luar Jawa), akan ditemukan fakta disparitas yang amat mencolok. Sebagai contoh, APM pada jenjang SLTP dan SLTA di perkotaan, masing-masing mencapai 71,9 persen dan 56,1 persen; sementara di pedesaan baru mencapai 54,1 persen dan 28,7 persen. Juga ada perbedaan amat signifikan APM SLTP pada kelompok masyarakat kaya dan miskin, masing-masing 72,3 persen dan 49,9 persen. Fakta disparitas ini juga dijumpai di provinsi-provinsi Jawa-luar Jawa. APM SLTP di DI Yogyakarta 78 persen, sementara di Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Bangka-Belitung, Papua, dan Gorontalo kurang dari 50 persen. Bahkan di NTT masih di bawah 40 persen.

Kenyataan disparitas itulah bisa menjadi justifikasi guna melakukan ekspansi program pendidikan secara lebih merata. Untuk itu, agenda penting yang harus menjadi prioritas adalah peningkatan pemerataan pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat miskin yang berjumlah sekitar 38,4 juta atau 17,6 persen dari total penduduk. Problem mereka, kemiskinan menjadi hambatan utama dalam mendapatkan akses pendidikan. Selain itu, daerah-daerah di luar Jawa yang masih tertinggal juga harus mendapat perhatian guna mencegah munculnya kecemburuan sosial. Dalam konteks ini, kebijakan affirative action amat relevan diterapkan guna mengatasi kesenjangan partisipasi pendidikan antardaerah dan antarkelompok masyarakat.

Tabel 1 dan 2 di bawah merangkum laporan Harsono (2003) mengenai pemerataan pendidikan dasar dan menengah yang belum tercapai berdasarkan data Balitbang Depdiknas.

Tabel 1 Angka putus sekolah





























USIA



JUMLAH

0 - 6 tahun

19 juta (73%)

7 - 12 tahun


2 juta (6%)

13 - 15 tahun


7 juta (55%)


Sumber: Harsono, E. B., Suara Pembaruan (2003/3/7)





















SEKOLAH



JUMLAH RUANG



RUANG YANG RUSAK

SD

801,216

168,655 (21%)

SLTP/SMU

184,707

29,552(16%)



Sumber: Harsono, E. B., Suara Pembaruan (2003/3/7)



Pemerataan pendidikan dasar dan menengah yang kurang ini setidaknya disebabkan oleh dua hal:

perhatian pemerintah terhadap pentingnya pendidikan dan

kemampuan ekonomi masyarakat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Anggaran pendidikan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia sangat rendah, masih kalah dibanding dengan negara-negara miskin di Asia, misalnya Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Kamboja, Afghanistan, India dan Myanmar. Rata-rata negara di Asia menempatkan anggaran pendidikan secara nasional di atas 3 persen dari GNP. Sedangkan Indonesia hanya mengalokasikan pembiayaan pendidikan sebesar 0,8 persen dari GNP.

Akibatnya biaya pendidikan di Indonesia terlalu mahal untuk kemampuan ekonomi masyarakat. Bukan hanya dalam perguruan tinggi, biaya pendidikan untuk sekolah dasar dan menengah masih sangat mahal bagi masyarakat kita. Biaya pendidikan yang harus ditanggung untuk memasuki sistem sekolah sangat beragam dan jumlahnya pun sangat besar, mulai dari uang bangunan, uang buku, uang seragam, uang ujian, belum lagi pungutan-pungutan lainnya. Dengan jumlah pengangguran tinggi dan pendapatan sebagian besar penduduk yang rendah, besarnya biaya yang harus ditanggung untuk bersekolah tidak dapat ditanggulangi sendiri oleh masyarakat.

Pendidikan adalah salah satu tugas negara terpenting (Edgar Faure) karena pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia yang istimewa. Pendidikan merupakan hak pribadi manusia yang berakar dalam aneka kebutuhan pokok manusia sebab manusia tidak bisa mengembangkan hidupnya tanpa pendidikan minimum dan bermutu. Jika transfer kultural terjadi secara alamiah seperti pada masyarakat primitif, manusia akan tetap terbelakang dan tidak akan terjadi sebuah transformasi sosial yang perlu untuk meningkatkan mutu kehidupan. Sebagai makhluk budaya, manusia harus mengalami transformasi kultural karena hanya dengan cara itulah manusia dapat mengatasi berbagai keterbatasan kodratnya. Tanpa pendidikan, manusia akan tetap kerdil, tergilas kekuatan dan kekuasaan alam, terpenjara pesona magis-misteri, dan seperti kata Asimov, tingkat kesadarannya hanya sebatas idle curiousity (instink) binatang dan takkan berubah menjadi creative curiousity, ciri orang terdidik. Dengan demikian, hak atas pendidikan bukan saja sekadar kebutuhan pokok fisik, tetapi juga kebutuhan pokok yang khas manusiawi yang akhirnya didasarkan atas martabat manusia yang tidak bisa ditawar. Namun demikian haruslah tetap disadari bahwa pemerintah memang tidak bisa jalan sendiri dalam mengatasi masalah pendidikan di negara kita. Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan semua pihak terkait dengan pendidikan perlu ikut serta dalam mengatasi persoalan itu.

Permasalahannya adalah upaya apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar terwujud pemerataan pendidikan yang bermutu? Dan upaya apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar pihak pengelola pendidikan swasta dapat terkontrol sesuai dengan tujuannya sebagai lembaga sosial? Beberapa terobosan yang perlu dilakukan dan dipentingkan menurut Tony Simbolon (2001) adalah:

Pemerintah perlu lebih tegas mengatur sekolah atau perguruan tinggi yang di kelola oleh swasta, baik dari aspek kualitas maupun aspek tarip yang diberlakukan oleh swasta dengan cara melaksanakan audit terhadap keuangan lembaga pendidikan swasta. Hal ini dimungkinkan apabila undang-undang nomor 20 Tahun 2003 dilaksanakan dengan konsekuen.

Perlunya kajian yang lebih intensif dan mendalam dalam mewujudkan pemerataan pendidikan yang bermutu.

Perlunya peningkatan subsidi di bidang pendidikan dengan upaya peningkatan anggaran di bidang pendidikan.

Perlunya dikaji kembali proyek-proyek pendidikan yang kurang bermakna secara langsung bagi masyarakat

luas dan dialihkan penggunaannya untuk subsidi pendidikan.

Perlunya dilakukan subsidi silang antar mahasiswa yang mampu dengan yang kurang mampu disetiap lembaga

pendidikan

Mutu Pendidikan

Harsono (2003) juga melaporkan bahwa kualitas pendidikan dasar dan menengah kita masih rendah. Hasil studi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan, kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada diurutan ke-38 dari 39 negara yang masih diteliti. Sementara penelitian The Third International Mathematics and Science Study Repeat tahun 1999 menunjukkan, kemampuan siswa SLTP Indonesia di bidang ilmu pengetahuan alam di urutan ke-32 dan untuk matematika di posisi ke-34 dari 38 negara yang diteliti di seluruh dunia.

Mengacu pada nilai Ebtanas sebagai cerminan kualitas pendidikan, terlihat nilai rata-rata nasional lulusan siswa SLTP yaitu 5,46 selama lima tahun terakhir. Hasil tersebut sangat memprihatinkan, karena angka itu dapat dikategorikan sebagai nilai "merah" (Harsono, 2003).

Isu mutu pendidikan terkait dengan faktor - faktor sebagai berikut:

Kualitas guru dan tenaga kependidikan (kepala sekolah, pengawas, penilik),

Kurikulum pengajaran,

Metode pembelajaran,

Bahan ajar,

Alat bantu pembelajaran, dan

Manajemen sekolah.

Keenam elemen ini saling berkait dalam upaya meningkatkan kualitas belajar-mengajar, yang berpuncak pada

peningkatan mutu pendidikan.

Namun, guru tetap merupakan faktor determinan dalam menentukan tinggi-rendahnya mutu pendidikan. Jumlah total guru sekitar 2,4 juta orang, sebagian besar berlatar belakang pendidikan SLTA dan D3 untuk jenjang TK-SD-SMP, dan sebagian kecil tamatan S1 untuk jenjang SM. Tentu saja ini berpengaruh pada kemampuan mengajar, yang diukur dengan penguasaan materi pelajaran dan metodologi pengajaran.

Selain itu, banyak guru yang mengajar di luar bidang keahliannya, yang secara teknis disebut mismatch. Contoh ekstrem, guru sejarah mengajar matematika dan IPA, yang terutama banyak dijumpai di madrasah (MI, MTs, MA). Guru mismatch ini jelas tidak mempunyai kompetensi untuk mengajar mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya sehingga dapat menurunkan mutu aktivitas pembelajaran. Dengan demikian, upaya peningkatan mutu guru mutlak dilakukan yang bisa ditempuh melalui program sertifikasi dan penyetaraan D3 dan S1 menurut bidang studi yang relevan. Namun, upaya ini harus disertai pula dengan peningkatan kesejahteraan guru melalui pemberian insentif. Ini sangat penting agar motivasi guru dalam mengajar makin kuat dan semangat pengabdian dalam menjalankan tugas mulia sebagai pendidik kian bergelora.

Efisiensi dan Efektivitas Anggaran

Rendahnya alokasi anggaran pendidikan selalu mengemuka dalam perdebatan publik. Banyak pihak menuntut

agar alokasi anggaran pendidikan dinaikkan guna mencapai tujuan:

Meningkatkan mutu dan

Memperluas akses (pemerataan).

Pemerintah memang telah memberi komitmen untuk meningkatkan anggaran pendidikan secara bertahap agar mencapai 20 persen dari APBN, kalaupun pelaksanaannya masih harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan negara maupun daerah. Namun, kenaikan anggaran tidak akan berarti bila tidak disertai upaya efisiensi. Isu efisiensi menyangkut cara memanfaatkan dana yang ada untuk membiayai berbagai program dan jenis kegiatan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kita harus mampu membuat skala prioritas dan menentukan program utama agar sasaran yang telah ditetapkan bisa tercapai. Maka, disiplin dalam penggunaan anggaran menjadi amat penting guna menghindari penyaluran dana yang tidak sesuai peruntukannya. Hanya dengan disiplin anggaran yang dilakukan secara ketat, misalokasi dapat dicegah.

Memahami efisiensi anggaran harus diletakkan dalam konteks organisasi penyelenggara pendidikan. Struktur organisasi Departemen Pendidikan Nasional yang besar dengan jumlah personel amat banyak jelas menuntut pembiayaan yang besar pula. Untuk itu, hal penting yang patut diperhatikan adalah bagaimana beban biaya dalam mengoperasikan organisasi raksasa ini jangan sampai menyedot anggaran yang besar.

Biaya operasional organisasi pendidikan harus ditekan seminimal mungkin sehingga dana yang ada dapat disalurkan langsung ke pihak-pihak penerima yang berhak, yaitu sekolah/universitas dan siswa/mahasiswa. Bila anggaran pendidikan lebih banyak digunakan untuk mengongkosi organisasi, ini merupakan salah satu bentuk inefisiensi. Karena itu, tuntutan kenaikan anggaran pendidikan 20 persen harus diikuti upaya efisiensi, dengan menetapkan target dan sasaran secara benar dan mengevaluasi pos-pos anggaran yang menjadi sumber inefisiensi.

Inilah tiga isu sentral pendidikan yang harus menjadi fokus perhatian bagi bangsa Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan amat penting guna melahirkan lulusan yang berkualitas dengan standar kompetensi tinggi sehingga siap menghadapi kompetisi global. Pemerataan pendidikan amat kritikal untuk menjamin keadilan, terutama bagi masyarakat miskin dalam memperoleh kesempatan pendidikan. Efisiensi anggaran harus dilakukan guna memastikan pemanfaatan dana secara benar untuk menghindari misalokasi, salah sasaran, dan kebocoran


D. Relevansi Pendidikan

Realitas Yang tidak bisa dielakkan, arus "globalisasi" telah menjangkiti dan melanda seluruh aspek kehidupan. Di sisi lain, kosmopolitanisme dipegangi sebagai semacam "ideologi". "Multikulturalisme" kian menjadi visi hidup berperadaban.
Menghadapi kenyataan itu, siasat-siasat seperti apa yang setepatnya dilakukan agar pranata-pranata pendidikan mampu mengakomodasi perubahan-perubahan peradaban yang berlangsung dalam zaman di mana segala sesuatu memasuki ruang lingkup dunia sebagaimana dikandung maknanya pada era globalisasi? pertanyaan ini mengarah dua dataran sekaligus, yakni dataran imperatif dan dataran empiris.
Secara imperatif, pranata sosial untuk pelatihan dan pendidikan, terutama sekolah dan pendidikan tinggi, tidak hanya bertugas memelihara dan meneruskan tradisi yang berlaku di masyarakat. Sebab, mengelola pendidikan pada hakikatnya mengelola masa depan.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berpesan, "Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu." Pesan senada disampaikan pakar masa depan, Alvin Toffler, " Pendidikan harus selalu mengacu pada masa depan."

Maka, pendidikan bertugas mengembangkan pola-pola budaya baru agar dapat membantu masyarakat mengakomodasi perubahan- perubahan yang sedang dan sudah terjadi. Secara empiris, dunia pendidikan kita, meski mampu mengembangkan pola-pola pelatihan dan pendidikan baru untuk menjawab aneka tuntutan perubahan dari zaman ke zaman, masih terasa lamban. Padahal, secara imperatif maupun empiris era globalisasi telah menjadi sebuah realitas yang harus dihadapi. Aneka perubahan yang berlangsung mulai kelihatan dampaknya. Sebenarnya dampak-dampak globalisasi harus dihadapi dan diselesaikan, baik pada tingkat wacana maupun tingkat kebijakan aksi. Dalam lingkup ini, pranata pendidikan nasional mau tidak mau terlibat di dalamnya bersama dengan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, politik, dan ekonomi pada umumnya. Ini penting agar dunia pendidikan tidak kian tumpul dan gamang dalam mengantisipasi era globalisasi yang menjadi isu kita dewasa ini.

Pada posisi sebagaimana yang digambarkan diatas sulit dibayangkan, keluaran pendidikan dapat masuk dunia ekonomi tanpa memiliki life skills, seperti membaca dan menulis secara fungsional, mampu merumuskan dan memecahkan masalah secara operasional, mampu menghitung dengan atau tanpa bantuan teknologi, dan kemampuan teknologi dalam beragam lapangan kehidupan.

Untuk memecahkan persoalan yang menonjol itu telah ditempuh beberapa kebijakan. Pertama, pendidikan berbasis masyarakat luas (broad-based education) dengan orientasi kecakapan untuk hidup (life skills). Kebijakan ini selain terkait pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun (wajar sembilan tahun), sekaligus membekali peserta didik lapisan masyarakat terbesar di negara kita yang akan bekerja, mengingat lebih dari 70 persen tamatan wajar sembilan tahun dan/atau tamatan SMA tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.


KESIMPULAN :

Upaya nyata untuk memberikan kesempatan kepada mereka dari kalangan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan bermutu bukan tidak ada sama sekali. Sebut saja misalnya pemberian beasiswa dan pengadaan orangtua asuh bagi anak-anak berprestasi dari kalangan ekonomi lemah. Namun upaya-upaya tersebut belum menyentuh sepenuhnya akar persoalan. Pasalnya,  pertama, yang menjadi sasaran bantuan adalah mereka yang berprestasi. Padahal agar bisa berprestasi diperlukan dukungan lingkungan. Lalu, bagaimana mungkin mereka dari kalangan ekonomi lemah dapat berprestasi agar mendapatkan beasiswa misalnya, bila kondisi keluarganya tidak memungkinkan mereka untuk berprestasi? Kedua, anak-anak dari kalangan ekonomi lemah tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan, melainkan juga iklim belajar yang khas dibandingkan mereka dari kalangan ekonomi menengah ke atas, terutama pada jenjang dan kelas-kelas awal. Bila disatukan, kemungkinan besar anak-anak dari golongan ekonomi lemah akan putus sekolah, dengan berbagai kemungkinan dampak negatif yang menyertainya (lihat Kneler, 1965).
Apa yang dikemukakan di atas menyiratkan paling tidak dua jalan keluar dalam rangka menjembatani kesenjangan ekonomi melalui sekolah. Pertama, pemerintah hendaknya menyediakan kemudahan maksimal bersekolah di sekolah negeri bagi mereka dari kalangan ekonomi lemah. Hendaknya mereka dari kalangan ekonomi lemah ber-sekolah bukan karena bantuan orangtua asuh maupun beasiswa, melainkan karena sistem pendidikan memang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk mendapatkan haknya dalam mengenyam pendidikan. Kedua, sebagaimana pihak swasta menyelenggarakan sekolah yang khusus dimasuki oleh anak-anak cerdas dan berbakat dari kalangan ekonomi menengah ke atas, pada tempatnya pemerintah juga menyelenggarakan sekolah khusus bagi anak-anak cerdas dan berbakat dari kalangan ekonomi lemah memperoleh perhatian khusus di sekolah-sekolah negeri.
               Secara teoretis otonomi daerah yang juga berarti otonomi pendidikan memberikan peluang lebih besar bagi terjadinya pemerataan pendidikan bermutu dalam rangka pemerataan ekonomi. Namun realisasi peluang besar itu memerlukan kejujuran dan kemauan dari penguasa daerah dalam memberikan perhatian proporsional kepada mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Dalam kenyataannya, di sejumlah daerah, anggaran belanja untuk aparat pemerintah dan DPR jauh melebihi anggaran pendidikan. Bahkan di daerah-daerah tertentu terdapat indikasi adanya kerja sama saling menguntungkan antara eksekutif dan legislatif untuk mempertahankan kekuasaan dan jabatan, dengan mempermainkan anggaran belanja daerah. Kenyataan ini merupakan indikator gamblang bahwa sampai saat ini otonomi daerah belum disikapi oleh elite penguasa daerah sebagai peluang untuk memajukan daerah.

Berdasarkan uraian/pembahasan tentang topik permasalahan pendidikan nasional di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut:

Mengacu pada konsep pendidikan untuk semua (education for All) yang dicetuskan di Jomtien, Bangkok, Thailand, tahun 1990, pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan orangtua.

Pendidikan sebagai human-investment, patut memperoleh alokasi anggaran yang lebih besar di dalam APBN. Di samping untuk keperluan prasarana dan sarana pendidikan yang diperlukan, anggaran yang lebih besar harus mampu memberdayakan guru/tenaga pendidik. Utang luar negeri kurang bermanfaat jika digunakan hanya untuk membangun gedung-gedung yang megah dan proyek-proyek raksasa yang manfaatnya tidak dirasakan mayoritas rakyat Indonesia, tetapi sektor pendidikan terabaikan.

Referensi/ Bahan Bacaan:

The Centre for the Betterment of Education http://www.cbe.or.id/, email: cbe@cbe.or.id, Education For All, 2004

Amich Alhumami, Tiga Isu Kritis Pendidikan, http:/www. Kompas Cyber Media, 2004

Tonny D Widiastono, Wajah Pendidikan Kita, http:/www. Kompas Cyber Media, 2003

Dikmenum, Rencana Strategis Pendidikan Menengah Umum, http:/www.dikmenum.go.id

Media Indonesia, Depdiknas ajukan tiga opsi pemerataan pendidikan, http:/www.kurikulum online.com

Umaedi,Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Sebuah pendekatan baru dalam pengelolaan sekolah untuk peningkatan mutu, http://www.depdiknas.go.id/

Propernas 1999-2004, http://www.depdiknas.go.id/

Balitbang dikdasmen, Mutu Pendidikan masih timpang, www.depdiknas .go.id

Artikel


Judul : Pengembangan Manusia Indonesia Berkarater Teknologi


Penulis : Prof. Slamet PH., M.A., M.Ed., M.A., MLHR., Ph.D


Sumber : http://www.depdiknas.go.id/Jurnal


Pengulas : Wiwin Kusumawati


1. Ringkasan Artikel:

Kemajuan teknologi global yang sangat dahsyat akhir akhir ini, tidak hanya harus diikuti, melainkan juga harus diantisipasi, mengingat kemajuan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Dalam kerangka itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi tidak hanya penting, melainkan sudah merupakan keharusan jika Indonesia ingin maju sejajar dan tidak ingin ketinggalan dalam bidang teknologi dengan negara-negara lain.

Pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi memerlukan proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Karena mengembangkan karakter manusia memerlukan tahap-tahap yang harus dilalui satu per satu. Melibatkan banyak pihak, karena manusia yang akan dikembangkan karakter teknologinya berada dalam kehidupan yang beragam, antara lain dalam kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan sejumlah manusia dalam kehidupan sekolah. Manusia berkarakter teknologi adalah manusia yang memiliki pengetahuan tentang alat, sumber daya, dan proses, dimana pengetahuan tersebut dijadikan muatan hati nurani, dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehingga dapat meningkatkan kinerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Unsur-unsur manusia yang dikembangkan di bidang teknologi meliputi daya pikir, daya kalbu, dan daya pisik. Proses pengembangan manusia berkarakter teknologi dilakukan melalui tahap kesadaran, penjajagan, orientasi, dan penyiapan. Pengembangan manusia berkarakter teknologi ditempuh secara serentak dan komplemen melalui jalur keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan teknologi dasar agar diterapkan sedini mungkin di sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) untuk mengembangkan manusia berkarakter teknologi.


2. Ulasan

Tulisan Slamet PH ini secara jeli mengupas trend yang tengah berkembang tentang orientasi pendidikan masa kini. Tulisan ini juga secara rinci mengupas tentang pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi yang tidak hanya penting, melainkan sudah merupakan keharusan jika Indonesia ingin maju sejajar dan tidak ingin ketinggalan dalam bidang teknologi dengan negara-negara lain. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Tilaar yaitu: paling tidak terdapat empat ciri utama yang dapat diidentifikasi untuk menggambarkan kondisi kehidupan masa kini; atau ciri-ciri kehidupan masyarakat dunia abad 21 yaitu: (1). Dunia tanpa batas (borderless world); (2). Kerjasama dan kompetisi antar bangsa (mega competition society); (3). Kesadaran terhadap hak dan kewajiban manusia (human rights and obligations) dan (4). Kemajuan Iptek dan teknologi informasi serta aplikasinya dalam kehidupan manusia (Tilaar, 2002)

Sumber daya manusia (SDM) haruslah dipahami dibangun oleh beberapa pilar, yang terpenting adalah pendidikan. Semakin terdidik suatu masyarakat semakin tinggi potensi untuk memiliki SDM yang berkualitas. Selanjutnya, semakin tinggi kualitas SDM, semakin besar kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Kesadaran tentang pentingnya penguasaan IPTEK dimulai saat dunia menyongsong kehadiran abad 21, semua bangsa maju sepakat bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan prasyarat untuk meraih kemakmuran (prosperity) dalam kancah pergaulan antarbangsa. Tulisan ini secara tegas mengupas tentang arti manusia berkarakter teknologi, dll. Karena pada dasarnya para ilmuwan sejagat sekarang tengah berlomba-lomba melakukan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan untuk meningkatkan korpus pengetahuan (Zuhal, 2000). Hasil semua ini diharapkan dapat dijadikan modal untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) serta memiliki karakter teknologi.

Zuhal (2000) menegaskan bahwa pengetahuan (Knowledge) akan merupakan basis baru bagi kesejahteraan suatu bangsa, yang akan ditentukan oleh cara bagaimana suatu masyarakat mampu mewujudkan pengetahuan (knowledge) sebagai landasan sistem perekonomian dan industrinya. menjelaskan prasyarat apa yang perlu dipenuhi untuk membangun suatu masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Paling tidak diperlukan lima elemen dasar yaitu: (a). penataan masyarakat; (b). kewiraswastaan; (c). pembentukan Pengetahuan (knowledge); (d). keterampilan (skill) dan (e). pengelolaan sumber daya alam lingkungan. Dalam upaya pembentukan knowledge dan keterampilan itulah, partisipasi dunia pendidikan akan memainkan peranan yang sangat penting.

Menghadapi masyarakat dimensi baru melalui pendidikan yang visi strategis sistemnya haruslah merangkum : (1) Mengidentifikasikan dan menyadari kekuatan global dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang agar dapat menghadapi dan memanfaatkan peluang yang terbuka; (2). Pendidikan dan pelatihan harusah memberikan perhatian terhadap kerjasama regional dan kerjasama global; (3). Penyusunan strategi pengembangan SDM menghadapi tantangan dan peluang global untuk menuju masyarakat berbasis pengetahuan yang sudah barang tentu juga berkarakter teknologi.

Kelebihan tulisan ini adalah kemampuan penulis untuk mengemukakan unsur-unsur manusia yang dikembangkan dalam teknologi yaitu meliputi: daya pikir, daya kalbu, daya fisik; hal ini merupakan suatu hal yang jarang dikupas secara rinci atau bahkan sering dilupakan oleh banyak penulis lain. Unsur manusia yang harus dikembangkan ini melengkapi release UNESCO (1996) yang menetapkan empat pilar pendidikan yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh pengelola dunia pendidikan, yaitu: (1). Belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan (learning to know); (2). Belajar untuk menguasai keterampilan (learning to do); (3). Belajar untuk hidup bermasyarakat (learning to live together); (4). Belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be). Hal tersebut berkaitan dengan kecakapan yang harus dimiliki oleh tenaga kerja di abad 21 menurut Dewan Konferensi Kanada (1991) meliputi: (1). cakap berkomunikasi (reading, writing, speaking, listening); (2). Mampu belajar mandiri; (3). cakap sosial: etika, sikap positif, dan tanggung jawab; (4). kerjasama tim; (5). mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berkembang; (6). cakap berpikir: pemecahan, masalah, kritis, logis menurut urutan angka; (7). pengetahuan navigasi: dimana mendapatkan, cara memproses informasi.

3. Kesimpulan Pengulas:

a. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kerangka mengembangkan masyarakat berpengetahuan, bahkan lebih berupa basic skill yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat yang ingin berkembang kearah masyarakat berpengetahuan adalah: (1). Demystify IT adalah kata kunci keberhasilan pembangunan masyarakat berkarakter teknologi; (2). Membudayakan komunikasi untuk membagi pengetahuan dan gagasan; (3). Komponen Pemerintah, NGO dan sektor swasta harus bahu membahu untuk menginvestasikan infrastruktur pendukung layanan dan pelaksanaan program yang meningkatkan kesadaran masyarakat. (4). Setiap warga masyarakat harus memiliki keterampilan dasar yang memungkinkannya berpartisipasi, dalam hal ini kemampuan matematika dan critical skill adalah minimum harus dikuasai agar masyarakat memiliki kemampuan menaksir kebenaran nilai informasi;

b. Sumber daya pokok yang paling di mendasar dalam ekonomi modern adalah menjadi pengetahuan sebagai investasi, sehingga haruslah dipahami bahwa proses yang paling utama dalam pembangunan ekonomi adalah perluasan kesempatan belajar, sedangkan proses belajar juga dapat diartikan proses pengembangan karakter, sehingga dalam konteks pengembangan manusia berkarakter teknologi salah satu indikator keberhasilannya adalah keberhasilan pembangunan pendidikan nasional mencapai tujuannya.

c. Masyarakat yang berkarakter teknologi adalah masyarakat yang setiap anggotanya bisa mengambil bagian dalam proses pengembangan dan penguasaan keterampilan yang didasarkan pada akses informasi. permasalahan bagi Indonesia adalah keterbatasan infra stuktur, kemudian sedikitnya upaya pemerintah dan sektor swasta mengupayakan investasi yang memungkinkan pemberdayaan jaringan komunikasi masyarakat dapat benar benar menglobal dan komunikasi dalam bentuk shearing pengetahuan menjadi suatu kebutuhan.

d. Pada pengembangan manusia berkarakter teknologi maka unsur-unsur manusia yang dikembangkan dalam teknologi yaitu meliputi: daya pikir, daya kalbu, daya fisik;

!--[if !supportLists]-->e. Implementasi penggunaan ICT adalah perlu sebagai alat untuk menciptakan masyarakat pengetahuan. Dalam kerangka itu perlu dibuat kebijakan serta infrastruktur telekomunikasi yang bisa menopang implementasi.

f. Setiap masyarakat harus mengambil bagian dalam kerangka pembangunan manusia Indonesia berkarakter teknologi, harus dibentuk semacam jaringan pengetahuan tempat masyarakat saling membagi akses pengetahuan yang memungkinkan setiap komponen masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai penerima melainkan juga memberikan informasi, interaksi tersebut secara ideal harus terjadi diantara kalangan masyarakat, pejabat bahkan pemimpin religius.


Pustaka Acuan:


Tilaar, H.A.R, 2002, Membenahi Pendidikan Nasional. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta

Tilaar, H.A.R, Kajian Pendidikan Masa Depan. Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung

Rusfidra, Peranan Pendidikan Tinggi Jarak Jauh untuk mewujudkan Knowledge Based Society. http://www.depdiknas.go.id/


Zuhal. 2000. Visi Iptek Memasuki Milenium Ketiga. Jakarta. Penerbit UI Press. 245p

Rusmono, Suharmantri, Bambang, 2003, Pembelajaran Berbasis Web Dan Komputer (Computer Dan Web-Based Instruction). http://www.jurnalteknodik.go.id

Jalal, Basri, Supriyadi, Dedi, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Penerbit Depdiknas, Bappenas, Adicita Karya Nusa, Jakarta

UNDP. 2000. Human Development Report 2000. Human Development Index. http://www.undp.org/hdro/hdi1.html

Miarso YH, 2008 Bahan Kuliah Teknologi Informasi Komunikasi dalam Pendidikan Program Pascasarjana Kependidikan Universitas Mulawarman




TEH MENINGKATKAN KESEHATAN
Di antara sekian banyak jenis minuman, teh termasuk minuman paling banyak dikonsumsi masyarakat. Di Indonesia, semua kalangan, dari bawah hingga atas, tak ada yang tak mengenal minuman khas Asia ini. Di Bumi Parahyangan, Jawa Barat, umpamanya, minuman teh menjadi minuman wajib untuk menjamu tamu. Di rumah makan atau warung Sunda pun setiap tamu selalu disodori minuman teh tawar lebih dulu sebelum makanan atau minuman yang dipesan disajikan.
Menurut dr.Dede Kusmana, dokter spesialis kardiologi dan vascular dari Universitas Indonesia, manfaat minum teh sama baiknya dengan minum air putih biasa. Hal itu terutama berkat adanya substansi yang terkandung dalam teh. Seperti kandungan catechin dalam teh hijau dapat mengikis lemak tubuh, terutama lemak-lemak bagian dalam. Sedangkan, kandungan flavonoid dalam teh bermanfaat besar untuk kesehatan kardiovaskular dengan memperbaiki fungsi endotehlial. Teh juga memiliki efek signifikan pada gen yang mempengaruhi kerentanan terhadap kanker pada beberapa orang. Pengujian klinis pada manusia yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bagaimana kandungan bioaktif pada teh dapat membantu sel memperbaiki diri dari serangan di sekelilingnya.
Selama ini tidak diketahui dampak buruk mengkonsumsi teh, Tidak ada alasan untuk tidak meminumnya karena teh bermanfaat untuk kesehatan. Hanya saja, jangan minum teh lebih dari 12 menit setelah diseduh, karena khasiatnya akan berkurang dan Anda hanya minum air rasa teh bukan khasiatnya,” pesan Dede. [W-1
Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya hanya sebagai tanaman hias.
Baru pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-biji Teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. Usaha tersebut tidak terlalu berhasil dan baru berhasil setelah pada tahun 1824 Dr.Van Siebold seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit Teh dari Jepang. Usaha perkebunan Teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stetsel ). Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan Teh diambil alih oleh pemerintah RI. Sekarang, perkebunan dan perdagangan Teh juga dilakukan oleh pihak swasta.


Waktunya Minum Teh
Manusia telah minum teh selama ribuan tahun, tetapi baru beberapa dekade terakhir para ilmuwan menyadari bahwa manfaat teh bagi kesehatan benar-benar menakjubkan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa selain air putih, teh mungkin merupakan minuman paling popular dan sehat di dunia ini.
Hampir 3 juta ton teh di seluruh pelosok dunia menurut Institut the di Inggris dan setiap peminum teh mengonsumsi rata-rata tiga cangkir teh per hari.
Teh menurunkan kadar kolesterol, melindungi kita dari penyakit jantung dan stroke, dan mengurangi resiko terserang kanker lambung dan kanker kulit.
Mengatasi flu hingga kanker.
Dari hasil penelitian ilmiah, teh memiliki kemampuan menghambat pembentukan kanker. Teh juga mampu mencegah penyakit jantung dan stroke. Minuman alami ini terbukti pula mampu menstimulir sistem sirkulasi, memperkuat pembuluh darah, dan menurunkan kolesterol dalam darah.
Teh pun bisa membantu meningkatkan jumlah sel darah putih yang bertanggung jawab melawan infeksi. Terutama teh hijau, bisa mencegah serangan influenza. Bahkan, bahan minuman dari pucuk daun Camellia sinensis ini bisa memperkuat gigi, melawan bakteri dalam mulut, mencegah terbentuknya plak gigi, serta mencegah osteoporosis.
Di dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan makanan dan penyakit macam kolera, tipes dan desentri. Prof. Dr. Sumarno Poerwo Soedarno, ketika menjabat staf ahli Menteri Kesehatan bidang teknologi kesehatan menyatakan kebiasaan minum teh dapat menurunkan angka serangan diare. Di dalam buku Shennong Bencao, Sennong mencatat 72 jenis tanaman beracun yang dapat dinetralisir oleh teh. Dengan kemampuan antibakterinya, teh membantu menghambat infeksi tenggorokan. Penelitian juga menunjukkan, meminum teh memperbaiki konsentrasi, ketajaman perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.
Lebih dari itu, teh bisa pula digunakan sebagai obat luar untuk beberapa penyakit. Di Cina, umpamanya, teh hijau digunakan sebagai obat rumah untuk menyembuhkan luka atau mencegah penyakit kulit dan penyakit kaki karena kutu air.
Selain itu, semua bagian tanaman teh juga bisa digunakan sebagai bahan-bahan kosmetik. Di antaranya, untuk lotion; cream antiseptik; produk-produk perawatan rambut macam shampo atau conditioner; perawatan mulut seperti pasta gigi, mouthwash, dan pelindung bibir; deodoran; produk pembersih macam sabun atau pembersih kulit; perawatan tubuh seperti hand & body lotion; perawatan kaki; dan produk-produk pelindung tubuh dari sengatan matahari atau yang diperlukan selama perjalanan. Barangkali produk kosmetik dari tanaman teh ini belum dikenal secara luas, namun produk tersebut sudah bisa dipesan lewat jaringan Internet.
Jenis-jenis Teh
Selama ini orang mengenal empat jenis teh, yakni teh putih, hijau, oolong, dan teh hitam. Perbedaan keempatnya terletak pada metode pemrosesan daun teh setelah dipetik. Tiap jenisnya dijuluki berbeda-beda pula sesuai tempatnya diproduksi.
Di antara jenis-jenis teh tadi, teh hijau memang lebih populer. Setelah selama berabad-abad menjadi minuman pilihan di Asia, kepopuleran teh hijau kini merambah ke negara Barat. Kunci popularitasnya terletak pada aroma alaminya dan manfaatnya bagi kesehatan.
Teh hijau ini dikenal dua macam menurut asalnya, yakni teh hijau Cina dan Jepang. Hampir semua teh yang diminum di Cina adalah teh hijau. Begitu pula dengan di Jepang. Di AS popularitas teh jenis ini meningkat setelah menjadi bagian penelitian ilmiah yang mengaitkannya dengan penurunan risiko terhadap kanker.
Meski tak sepopuler teh hijau, teh oolong juga memiliki penggemar sendiri. Teh oolong terbaik di dunia kebanyakan diproduksi secara eksklusif di Cina, Darjeeling (India), dan Formosa (Taiwan).
Sementara, teh hitam terbaik di dunia dihasilkan di India (Assam, Darjeeling, dan Nilgiri), Sri Lanka (Ceylon), dan Cina. Di negara-negara Barat konsumsi tehnya lebih dari 80% menggunakan teh hitam. Khusus, di AS konsumsi teh jenis ini mencapai lebih dari 90%.
Keempat jenis teh tersebut berbahan mentah sama, yakni tanaman teh Camellia sinensis. Meski di banyak tempat di dunia bisa ditemukan, namun yang terbanyak dibudidayakan di India, Cina, Kenya, dan Sri Lanka.

Sekarang ini ada banyak cita rasa teh, tetapi semua teh itu berasal dari tanaman yang sama, Camelia sinensis. Cita rasa teh yang berbeda-beda berasal dari cara teh itu diproduksi dan difermentasikan. Teh hitam yang paling kita kenal,dibiarkan mengalami proses fermentasi paling lama. Teh hijau difermentasikan untuk jangka waktu tersingkat.

Dengan harga terjangkau, teh mungkin merupakan obat termurah di dunia. Berikut ini contoh manfaat teh dalam bidang pengobatan :
Melindungi manusia dari penyakit jantung.

Mengurangi resiko terkena kanker.

Melindungi tubuh dari bakteri dan virus-virus berbahaya dan menghancurkannya.

Menurunkan tekanan darah.

Mengurangi atherosclerosis (pengerasan pembuluh nadi).

Memerangi infeksi.
Meredakan migrain.

Mengurangi pembusukan gigi dan penyakit gusi.

Membantu menurunkan berat badan.

Menurunkan kadar kolesterol jahat(LDL).

Meningkatkan kadar kolesterol baik(HDL).
Sebagian penemuan terbaru yang paling menarik menyangkut teh adalah khasiatnya dalam mencegah penyakit kanker. Para ilmuwan yakin bahwa penyebabnya adalah karena teh sarat dengan zat penangkal penyakit, yaitu polyphenol, antioksidan tangguh yang mencegah kerusakan sel yang berhubungan dengan proses penuaan dan berbagai penyakit yang mengancam nyawa seperti kanker.
Daftar rujukan :

www.indomedia.com/intisari/1998/mei/teh
www.sosro.com/indonesia/it_sejarah_teh
nusaindah.tripod.com/altehhijau

http://en.wikipedia.org/wiki/Green_tea

Menghitung dengan Sempoa

Asal-usul sempoa sulit dilacak karena alat hitung yang mirip-mirip sempoa banyak dikenal di berbagai kebudayaan di dunia. Konon sempoa sudah ada di Babilonia dan di Tiongkok sekitar tahun 2400 SM dan 300 SM. Orang zaman kuno menghitung dengan membuat garis-garis dan meletakkan batu-batu di atas pasir yang merupakan bentuk awal dari berbagai macam variasi sempoa.
Alat hitung sempoa pertama kali ditemukan dalam sejarah Babilonia kuno dalam bentuk sebilah papan yang diatasnya ditaburi pasir sehingga orang bisa menulis atau menghitung. Itu sebabnya alat tersebut dinamai abakus yang berasal dari bahasa Yunani ABACOS, yang artinya menghapus debu.
Bangsa Cina mengembangkan abakus ini menjadi 2 bagian. Pada jeruji atas dimasukkan 2 manik-manik dan 5 manik-manik pada jeruji bawah. Model/bentuk inilah yang membuat abakus/sempoa menjadi amat populer.
Pada abad ke 16, abakus dibawa masuk ke Jepang oleh para pedagang dan bhiksu-bhiksu Buddha dari Cina. Dan bangsa Jepang akhirnya mempunyai ide untuk mengurangi jumlah manik-maniknya menjadi satu pada jeruji atas dan empat pada jeruji bawah. Metoda ini amat praktis sehingga membuat anak-anak Jepang amat menyukai aritmatika. Hal inilah yang membuat Jepang begitu cepat bangkit dari puing-puing kekalahannya pada Perang Dunia II. Dengan generasi muda yang menyukai bidang-bidang eksakta, masuknya Amerika yang membawa teknologi Barat membuat orang Jepang dengan mudahnya mampu meniru, memodifikasi dan bahkan kini telah melampauinya.
Ribuan tahun lalu sebelum ditemukannya kalkulator, sebagai mesin hitung manusia sudah menemukan teknik menghitung jumlah. Teknik ini sangat beragam. Orang Mesir menggunakan bahasa simbol untuk menghitung jumlah sampai dengan puluhan ribu. Sementara orang China mengenal sistem penghitungan jumlah yang praktis, yang mereka kenal dengan nama Sempoa.Zaman dahulu di kampung-kampung, di setiap toko, para tauke China yang berdagang menghitung dengan menggunakan Sempoa.
Sempoa atau sipoa adalah alat kuno untuk berhitung yang dibuat dari rangka kayu dengan sederetan poros berisi manik-manik yang bisa digeser-geserkan. Sempoa digunakan untuk melakukan operasi aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar kuadrat.
Dengan alat yang terbuat dari kayu tersebut, jumlah uang puluhan bahkan ratusan juta hanya dihitung manual. Kini di zaman modern ini, banyak orang kembali menggunakan sempoa atau abacus. Banyak yang percaya bahwa sempoa mampu untuk meningkatkan kecerdasan pemakainya. Apalagi jika sudah terlatih memakai sempoa sejak kecil.Kini ada dua jenis sempoa yakni sepoa satu tangan dan sempoa dua tangan.
Sempoa telah digunakan berabad-abad sebelum dikenalnya sistem bilangan Hindu Arab dan sampai sekarang masih digunakan pedagang di berbagai belahan dunia seperti di Tiongkok.
Sempoa sering digunakan sebagai alat hitung bagi tuna netra karena manik-manik pada sempoa dapat dengan mudah dirasakan dengan jari-jari. Sehelai kain lembut atau selembar karet biasanya diletakkan dibawah sempoa untuk mencegah manik-manik bergerak secra cepat.
Dalam bahasa Inggris, sempoa dikenal dengan nama abacus. Penggunaan kata abacus sudah dimulai sejak tahun 1387, meminjam kata dalam bahasa Latin abakos yang berasal dari kata abax yang dalam bahasa Yunani berarti "tabel perhitungan." Dalam bahasa Yunani, kata abax juga berarti tabel untuk menggambar bentuk-bentuk geometris di atas debu atau pasir. Ahli linguistik berspekulasi bahwa kata abax berasal dari kata ābāq yang dalam bahasa Ibrani yang berarti "debu." Pendapat lain mengatakan abacus berasal dari kata abak yang dalam keluarga bahasa Fenisia berarti "pasir."

Sempoa sistem 1-4 atau sempoa Jepang (soroban) merupakan sistem desimal murni yang hanya terdiri dari 2 baris manik-manik. Baris bagian atas terdiri dari 1 baris manik-manik dan baris bagian bawah terdiri dari 4 baris manik-manik. Ada juga soroban dengan 5 baris manik-manik pada setiap kolom.

Baris manik-manik bagian atas (sebuah manik-manik per batang) bernilai 5, sedangkan manik-manik bagian bawah (4 manik-manik per batang) bernilai 1. Garis tengah di antara kelompok manik-manik tersebut disebut "garis nilai". Pada kondisi nol, tidak ada manik-manik yang menempel pada garis nilai. Batang sempoa pada posisi paling kanan bernilai satuan, dengan batang di sebelah kirinya bernilai puluhan, ratusan, dan begitu seterusnya ke arah kiri.Soroban diajarkan di sekolah dasar di Jepang sebagai bagian dari pelajaran operasi operasi aritmatik untuk memperlihatkan bilangan desimal secara visual. Pada waktu belajar menghitung dengan soroban di kelas, guru biasanya memberi instruksi penambahan atau pengurangan deng Metoda berhitung sama halnya dengan belajar matematika dasar, yakni dengan belajar menambah (+) mengurangi (-) mengalikan (x) dan membagi (:) memakai alat SEMPOA.
Pada tahap awal, anak-anak diajarkan menguasai sempoa sampai mahir lalu ketrampilan tangan itu dipindahkan ke dalam alam imajinasinya sampai akhirnya anak-anak tidak memerlukan sempoa lagi.
Usia Ideal Belajar
Usia ideal belajar anak dimulai pada saat si anak memasuki usia sekolah di TK-A, TK-B, Sekolah Dasar (SD) dan paling tinggi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini bertitik tolak pada teori bahwa perkembangan daya pikir anak yang dimulai pada usia 0 sampai 15 tahun memiliki tingkat pertumbuhan yang pesat.

Mencerdaskan Anak dengan Sempoa
Berdasarkan penelitian The Chinese Zhusuan Associates, pendidikan Mental Aritmatika Sempoa Dua Tangan secara dini (usia 4 - 12 tahun) adalah periode terbaik dan cara unggul untuk mengembangkan kemampuan otak manusia. Karena pada masa itu pola dasar berpikir seorang anak sudah terbentuk, otot tangan makin tumbuh, pergerakan tangan masih lincah dan sangat pas untuk menggerakkan manik-manik sempoa.

Pergerakan manik-manik sempoa yang selaras antara tangan kanan dan kiri sangat memungkinkan daya penglihatan manusia, daya pendengaran, daya raba dan semua otot bekerja secara harmoni.

Manfaat Belajar Aritmatika Sempoa

Mental Aritmatika Sempoa (MAS) merupakan salah satu disiplin dari ilmu pengetahuan eksakta yang dapat dibuktikan dan berguna sebagai dasar pengembangan kerangka dan cara berpikir anak. Program pendidikan ini membuat seorang anak dapat menghitung dengan cepat semata-mata hanya dengan pemikiran di dalam otak. Kadar kecepatan menghitungnya bisa mencapai tiga kali lebih cepat dari mesin kalkulator.

Program ini paling efektif diajarkan pada anak berusia 6-12 tahun, karena di usia inilah pola dasar berpikir seorang anak terbentuk. Namun karena banyaknya permintaan masyarakat untuk anak usia 4-5 tahun, maka ada program khusus buat mereka. Kursus dasar sempoa ini mengajarkan mewarnai, bernyanyi dan belajar bahasa Inggris sambil berhitung dengan sempoa karena di usia tersebut bisa dimaklumi jiwa anak-anak lebih senang bermain.
Melalui belajar mental aritmatika seorang anak akan memperoleh banyak manfaat diantaranya :
1. Meningkatkan kemampuan berhitung lebih cepat diatas rata-rata anak
2. Kemampuan mencongak lebih cepat dan tepat
3. Menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan kanan serta mengoptimalkannya untuk mencapai tingkat berfikir yang analisis dan logika berfikir yang benar
4. Terlatihnya daya fikir dan konsentrasi, membantu anak untuk menguasi mata pelajaran yang lainnya.
5. Menumbuhkembangkan imajinasi sehingga kreatifitas anak berkembang.
6. Membiasakan diri dengan angka-angka, membuat anak tidak lagi alergi pada pelajaran eksakta.
Tujuan MAS adalah untuk mengoptimalkan secara penuh pengembangan kekuatan dan potensi otak -- otak kanan khususnya -- serta kreativitas anak pada masa pertumbuhannya. Dengan berbagai latihan yang diberikan melalui bantuan indera pendengaran, penglihatan dan sentuhan jemari tangan akan membantu anak mempunyai sifat pribadi, kesabaran, konsentrasi, ketelitian dan disiplin. Tidak kalah pentingnya adalah membina minat anak terhadap pelajaran matematika di sekolah dan di rumah.
Pengajaran MAS ini dibantu alat khusus yang disebut dengan sempoa (abacus). Pada awalnya, anak-anak diajarkan aritmatika menggunakan sempoa konkret yang mempunyai bentuk, bunyi dan warna. Makin tinggi tingkatannya, siswa selanjutnya beralih menggunakan sempoa bayangan yang tidak mempunyai bentuk, bunyi dan warna. Pendidikan ini hanya melibatkan hitungan penambahan (+), pengurangan (-), perkalian (X) dan pembagian (:).

Cara ini dapat mengembangkan mental/jiwa anak-anak melalui Mental Aritmatika. Diharapkan nantinya mereka akan dapat menghitung bilangan-bilangan atau angka-angka tanpa alat bantu apa pun termasuk kalkulator dalam waktu kurang dari 30 detik. Kursus Mental Aritmatika terdiri dari 10 tingkat. Lama pendidikan tiap tingkatan kurang lebih tiga bulan dengan lama belajar seminggu sekali selama dua jam.

Daftar Rujukan :



























Artikel Lengkap:



Pengembangan Manusia Indonesia Berkarater Teknologi



Oleh : Slamet PH





Sumber http://www.depdiknas.go.id/



Kata kunci: karakter, teknologi, proses pengembangan, jalur pengembangan, pendidikan teknologi dasar



1. Pendahuluan



Saat ini teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik teknologi komunikasi/informatika, transportasi, manufaktur, konstruksi, bahan/material, energi maupun bio. Bahkan, dalam skala global, kemajuan teknologi informatika sangat dahsyat karena setiap detiknya dihasilkan satu teknologi baru.



Kemajuan teknologi global yang sangat dahsyat ini tidak hanya harus diikuti, melainkan juga harus diantisipasi, mengingat kemajuan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Agar mampu berpacu dalam kemajuan global teknologi banyak faktor yang mempengaruhinya, namun manusia merupakan kuncinya. Karena itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi tidak hanya penting, melainkan sudah merupakan keharusan jika Indonesia ingin maju sejajar dan tidak ingan ketinggalan dalam bidang teknologi dengan negara-negara lain.



Pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi memerlukan proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Memerlukan waktu yang panjang karena mengembangkan karakter manusia memerlukan tahap-tahap yang harus dilalui satu per satu. Melibatkan banyak pihak, karena manusia yang akan dikembangkan karakter teknologinya berada dalam kehidupan yang beragam, antara lain dalam kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan sejumlah manusia dalam kehidupan sekolah.



2. Kajian Literatur dan Pembahasan



2.1. Arti Manusia berkarakter Teknologi



Memberi makna manusia berkarakter teknologi haruslah didasari atas "apakah yang dimaksud dengan teknologi?". Susahnya, teknologi telah diartikan secara berbeda-beda menurut perumusnya. Dorf (1974) mengartikan teknologi sebagai aplikasi sains, sedang Snyder (1981) mengartikan teknologi sebagai pengetahuan dan studi usaha manusia dalam menciptakan dan menggunakan alat, teknik, sumber daya, dan sistem untuk mengelola lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia untuk tujuan memperbaiki kehidupan. Goethsch dan Nelson (1987) mengartikan teknologi sebagai kombinasi alat, sumber daya, dan proses, yang dijiwai oleh manusia untuk memecahkan masalah atau untuk memperluas kapabilitasnya. Ahli-ahli yang lain lagi akan mengartikan teknologi yang berbeda-beda pula. Namun, ada kesamaan pandangan bahwa teknologi memiliki empat komponen yang karakteristik yaitu adanya manusia, alat, sumber daya dan proses.



Pertama, manusia berfungsi sebagai "jiwa" teknologi karena manusialah yang membuatnya dan karenanya tanpa sentuhan manusia, teknologi tidak memiliki arti apa-apa. Kedua, alat merupakan bagian penting teknologi, karena dari alat inilah proses teknologi akan berlangsung. Dalam perkembangannya, alat mengalami kemajuan, dari yang sangat sederhana (misal: pengungkit yang digerakkan tangan, bubut tangan, gergaji tangan, dsb.) hingga sampai alat yang sangat modern (misal: CNC, mekatronik, hipercomputer, dsb.). Ketiga, sumber daya selain manusia merupakan komponen teknologi yang harus ada. Sumber daya yang dimaksud meliputi bahan, energi, uang, waktu, dan informasi. Keempat, proses merupakan komponen vital teknologi. Proses adalah serentetan tahap yang menuntun ke arah hasil tertentu. Dengan kata lain, proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Karena sedemikian banyaknya jenis teknologi, maka prosesnya pun juga banyak ragamnya.



Keempat komponen di atas, yang kemudian disebut teknologi, diharapkan meningkatkan kinerja suatu organisasi yang meliputi peningkatan kualitas, efisiensi (penurunan biaya produksi), produktivitas, efektivitas, profitabilitas, kualitas kehidupan kerja, kandungan nilai tambah, dan memperluas keragaman produk, yang kesemuanya itu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat.



Dengan penjelasan di atas, teknologi memiliki empat komponen yang karakteristik, yaitu manusia, alat, sumber daya, dan proses, serta tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja manusia/organisasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat, maka tidaklah sukar mengartikan manusia berkarakter teknologi. Manusia berkarakter teknologi adalah manusia yang memiliki pengetahuan tentang alat, sumber daya, dan proses, dimana pengetahuannya dijadikan muatan hati nurani, dihayati, dan dipraktikkan dalam kehidupan untuk meningkatkan kinerjanya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.



2.2. Tujuan Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi



Mengapa harus mengembangkan manusia Indonesia berkarakter teknologi? Pertanyaan ini menyangkut kedudukan kemampuan teknologi manusia Indonesia khususnya atau bangsa Indonesia pada umumnya terhadap bangsa-bangsa lain. Data dari The World Competitiveness Report (1995) menunjukkan bahwa kemampuan teknologi bangsa Indonesia berada pada urutan 33 dari 48 negara yang diteliti. Di dalam negeri sendiri jumlah tenaga kerja yang bekerja pada teknologi tinggi, menengah, dan rendah berturut-turut 102.500, 443.800 dan 2.662.800 orang (BPS, 1990), yang dapat disimpulkan bahwa kemampuan teknologi bangsa Indonesia masih rendah. Tidak hanya itu saja, dukungan dana untuk "Research and Development" relatif lebih rendah dibanding negara-negara tetangga Singapore, Malaysia, Thailand dan Philippines). Yang paling memprihatinkan adalah rendahnya prestasi belajar anak-anak didik kita. Nilai Matematika dan Fisika yang merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan teknologi, sangat rendah. Rata-rata nilai Matematika dan Fisika pada Sekolah Menengan Umum dan Kejuruan tidak lebih dari angka 4 sampai 5 (Depdikbud, 1988) dengan skala nilai minimum 0 dan maksimum10. Dalam kehidupan masyarakat juga belum tercermin cintanya/apresiasinya terhadap teknologi. Terbukti teknologi-teknologi yang lahir di tanah air tercinta ini "kurang dirawat" dan dibiarkan dicuri/diambil alih oleh bangsa lain. Yang terakhir, tingkat melek teknologi bangsa Indonesia masih nampak memprihatinkan.



Berdasarkan sejumlah tantangan tersebut di atas, maka bangsa Indonesia harus menghadapinya. Cara menghadapinya adalah dengan meningkatkan daya saing terhadap kemampuan teknologi bangsa-bangsa lain. Banyak faktor penentu daya saing teknologi, namun peningkatan kemampuan manusia di bidang teknologi akan menentukan kemenangan bersaing, karena faktor manusia merupakan satu-satunya sumber daya yang aktif, sedangkan sumber daya lainnya pasif. Oleh karena itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi merupakan alternatif yang paling strategis.



Pada dasarnya, tujuan utama pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi adalah untuk meningkatkan kemampuan daya saing bangsa Indonesia di bidang teknologi, sehingga bangsa Indonesia dapat hidup sejajar (kompetitif) dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan bahkan dapat hidup memimpin bangsa-bangsa lain di bidang teknologi.



2.3. Unsur-unsur manusia yang dikembangkan di bidang teknologi



Unsur-unsur manusia apa saja yang perlu dikembangkan di bidang teknologi ? Dimensi manusia dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu daya pikir, kalbu dan pisik. Karena itu, pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi harus mencakup tiga dimensi tersebut.



Pada dimensi daya pikir, yang perlu dikembangakan adalah daya pikir tentang dasar-dasar teknologi dan teknologi itu sendiri. Dasar-dasar teknologi tidak lain adalah sains keras dalam arti luas, yang meliputi matematika, biologi, fisika, dan kimia. Teknologi dapat dikategorikan ke dalam teknologi komunikasi, transportasi, manufaktur, konstruksi, energi, bio, dan bahan (material). Masyarakat harus melek dasar-dasar teknologi dan melek dalam teknologi itu sendiri. Inilah kemampuan daya pikir yang perlu dimiliki oleh generasi muda Indonesia pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.



Pengembangan daya kalbu manusia Indonesia di bidang teknologi perlu diupayakan. Pada dasarnya, unsur daya kalbu manusia menyentuh masalah-masalah kesanggupan diri untuk mencintai teknologi sebagai alat bagi kehidupannya. Apresiasi, sikap positif, kesayangan, motivasi, rasa keingintahuan, kehendak untuk lebih baik, dan kesan positif terhadap teknologi, harus ditanamkan ke kalbu manusia sejak dini hingga sampai akhir hayatnya. Ini penting karena betapa pun maju daya pikir teknologinya, akan tetapi jika daya kalbunya tetap tidak berubah, maka sukar diharapkan adanya kemajuan teknologi.



Dimensi daya pisik manusia, keterampilan pisik khususnya merupakan bagian integral pengembangan manusia berkarakter teknologi. Keterampilan pisik, khususnya teknologi yang berbau "craft" merupakan kemampuan, yang kalau digarap dengan baik, dapat memberikan nilai tambah berlipat ganda terhadap sumber daya yang diolah. Seni-seni kriya ukir dari Bali, batik dari Yogyakarta dan Solo, ukir kayu dari Jepara, perak dari Yogyakarta dan masih banyak contoh yang lain, merupakan kemampuan keterampilan pisik teknologi yang dapat dijadikan komoditi unggulan daerah yang bersangkutan.



2.4. Proses Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi



Mengembangkan ketiga dimensi manusia agar berkarakter teknologi seperti di atas, yaitu daya pikirnya, kalbunya, dan pisiknya, memerlukan proses yang bertahap dan harus berkualitas tinggi. Urutan pengembangan manusia berkarakter teknologi menurut United States Office of Education (1972), perlu dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut: (1) tahap kesadaran/pengetahuan, (2) tahap penjagaan/eksplorasi, (3) tahap orientasi, dan (4) tahap penyiapan. Uraian seperlunya dapat disimak sebagai berikut.



Tahap kesadaran, adalah tahap dimana manusia perlu diberi pengetahuan tentang hal ihwal teknologi, baik jenis-jenisnya, manfaatnya, maupun akibatnya. Hal ini penting untuk dilakukan agar manusia memahami secara benar dan utuh tentang teknologi. Tahap ini dicapai melalui pengenalan dan penyingkapan teknologi secara luas dan kandungan nilai-nilai positif yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Strategis yang tepat untuk melakukan tahap kesadaran ini adalah melalui penyingkapan berbagai teknologi yang ada, membuat manusia sadar tentang kaitan dirinya dengan teknologi, memberikan dasar-dasar kemampuan untuk mempelajari teknologi, memberikan pengertian tentang manfaat teknologi bagi kehidupannya, dan memberikan pengertian tentang dampak teknologi pada kehidupan dirinya. Pada tahap ini diharapkan manusia telah menyenangi jenis teknologi tertentu. Tahap ini tepat disampaikan kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) atau kepada masyarakat yang belum melek teknologi.



Pada tahap penjajagan (eksplorasi), manusia diajari untuk menjajagi lebih mendalam tentang jenis teknologi tertentu termasuk cabang-cabangnya serta menilai minat dan kemampuannya untuk mempelajari lebih mendalam teknologi yang akan menjadi pilihannya. Pada tahap ini pula manusia diajari untuk membuat keputusan dan pilihan terhadap teknologi yang akan dijadikan alat bagi kehidupannya. Tahap ini cocok untuk anak-anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau untuk orang-orang dewasa yang telah tamat SD. Strategi yang paling cocok untuk tahap penjajagan ini adalah kunjungan ke tempat-tempat dimana teknologi diterapkan (misal: Industri, Bank, Rumah Sakit, Pusat Penelitian Teknologi), kontak langsung dengan nara sumber yang bekerja di kehidupan (misal: Industri, Bank), dan pengalaman pengamatan kerja langsung di berbagai instansi yang menerapkan teknologi.



Pada tahap orientasi, manusia mulai diarahkan mempelajari jenis teknologi tertentu melalui pengalaman kerja (magang) pada instansi yang menggunakan teknologi pilihannya. Magang diartikan sebagai "membantu" pekerja pada instansi tertentu yang menerapkan teknologi pilihannya. Di instansi tersebut, pemagang mempelajari tujuan penggunaan teknologi, proses kerjanya, dan berbagai alat dan sumber daya yang diperlukan untuk berlangsungnya proses. Tahap ini cocok untuk siswa pada kelas awal Sekolah Menengah (Umum dan Kejuruan). Bagi masyarakat umum, tahap ini cocok bagi mereka yang telah mengenal teknologi tertentu dan ingin mempelajari lebih mendalam bagi kepentingan pekerjaannya/usahanya.



Pada tahap penyiapan, manusia mulai disiapkan mempelajari secara mendalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan teknologi pilihannya pada jenis pekerjaan tertentu. Pada tahap ini manusia benar-benar mempelajari dan berlatih dengan cara yang benar tentang penggunaan alat-alat, penggunaan sumber daya, dan tahap-tahap proses teknologi tertentu. Tahap penyiapan dapat dilakukan secara komplementer di sekolah dan didunia kerja yang menggunakan teknologi tertentu. Hasil akhir dari tahap penyiapan ini adalah kesiapan kemampuan dan kesanggupan manusia pada jenis teknologi tertentu. Artinya, siapa saja yang telah melalui tahap ini, yang bersangkutan telah siap mengoperasikan jenis teknologi tertentu: manufaktur, komunikasi, transportasi, konstruksi, material/bahan, energi, dan bio.



Tahap penyiapan lebih cocok bagi siapa saja yang menguasai tahap-tahap sebelumnya. Bagi peserta didik khususnya, tahap ini lebih cocok untuk mereka yang duduk: di kelas akhir Sekolah Menengah Umum, di Sekolah Menengah Kejuruan, dan di Perguruan Tinggi.

2.5. Jalur-jalur Pengembangan Manusia Berkarakter Teknologi

Pengembangan manusia berkarakter teknologi akan lebih kondusif jika dilakukan secara komplemen dan kolaboratif antara keluarga, sekolah dan masyarakat (Lamons, 1984; Levin, 1984). Artinya, harus ada pembagian fungsi-fungsi dalam pengembangan manusia berkarakter teknologi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kejelasan fungsi tersebut sangat penting agar terhindar dari duplikasi dan pemborosan. Karena itu, diusulkan adanya kebijakan teknologi nasional. Selain dapat mengatur peran dari fungsi-fungsi tertentu, juga dapat memiliki kejelasan tentang sasaran dan arah pengembangan teknologi nasional. Berikut disampaikan peran masing-masing jalur pengembangan manusia berkarakter teknologi.

2.5.1. Jalur Keluarga.

Keluarga merupakan awal manusia dididik. Jika anak hidup dengan penuh kasih sayang, dia akan belajar mencintai. Jika anak hidup penuh pujian atas keberhasilannya, dia akan belajar merasa sukses. Jika anak hidup penuh kritikan, dia akan belajar menyalahkan orang lain. Jika anak hidup dengan penuh permusuhan dia akan belajar berkelahi (Nolte, 1977). Contoh-contoh ini sekedar memberikan gambaran betapa pentingnya peran keluarga (orangtua) dalam mempengaruhi anak. Hal ini berlaku juga bagi pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi.

Peran utama orangtua dalam mengembangkan manusia Indonesia berkarakter teknologi adalah sebagai motivator. Sebagai motivator, orangtua sudah selayaknya memberikan dorongan yang kuat terhadap anaknya untuk mempelajari jenis teknologi tertentu. Orangtua adalah orang yang paling memahami karakteristik anaknya, baik dari dimensi pikirnya, kalbunya, maupun fisiknya. Karena itu, sebagai motivator hendaknya lebih memberikan dorongan kebebasan yang terarah. Adalah tidak tepat jika orangtua memberikan dorongan yang mengarah kepada pemaksaan yang berakibat membunuh kreativitas anak. Karena itu, orangtua selayaknya memberikan ruang gerak anaknya untuk melakukan eksprimentasi-eksprimentasi yang mengarah kepada kreativitas berpikir anak pada umumnya, dan kreativitas berpikir teknologi pada khususnya.

Dalam membentuk manusia berkarakter teknologi, orangtua agar mendorong anaknya menyenangi ilmu-ilmu matematika, fisika, kimia dan biologi, karena ilmu-ilmu ini merupakan dasar untuk mempelajari teknologi. Orangtua tidak semuanya mengerti ilmu-ilmu tersebut, dan karena itu yang diperlukan adalah dorongan. Tentu akan lebih efektif jika orangtuanya juga mengerti tentang ilmu-ilmu dasar teknologi tersebut.

2.5.2. Jalur Sekolah

Sekolah merupakan tempat bagi pengembangan potensi anak setelah keluarga. Bahkan harapan orangtua terhadap sekolah sering berlebihan, yaitu agar sekolah dapat berperan mendidik apa saja yang dianggap bermanfaat bagi anaknya. Harapan orangtua seperti ini tentu saja tidak dibenarkan, mengingat keterbatasan sumber daya sekolah. Meskipun dengan keterbatasannya, sekolah diharapkan mampu melakukan proses pendidikan seperti yang disarankan oleh samuel Smiles (1887) dalam bukunya Life and Labor, yaitu:

" Tanamkan pemikiran, dan kamu akan memanen tindakan "

" Tanamkan tindakan, dan kamu akan memanen kebiasaan "

" Tanamkan kebiasaan, dan kamu akan meraih karakter "
" Tanamkan karakter, dan kamu akan memanen tujuan "
Saran Smiles tersebut masih relevan bagi sekolah mana saja. Sekolah yang berkeinginan membangun manusia yang berkarakter teknologi harus mampu memberikan pemikiran-pemikiran tentang teknologi (pengetahuan teknologi), menanamkan tindakan konkret atas dasar pemikiran teknologi yang telah ditanamkan kepada peserta didiknya, menanam kebiasaan berperilaku atas dasar teknologi modern, dan menanamkan karakter yang berorientasi pada teknologi, agar tujuan pengembangan manusia berkarakter teknologi dapat dicapai.

Proses pendidikan ini dapat berlangsung dengan baik jika didukung oleh kesiapan sekolah, terutama gurunya (dyrenfurth, 1984). Guru merupakan faktor strategis. Karena itu, kemampuan dan kesanggupan guru di bidang dasar-dasar teknologi (fisika, matematika, kimia, biologi) dan di bidang teknologi (telekomonikasi, manufaktur, konstruksi, transportasi, dsb. perlu ditingkatkan.

2.5.3. Jalur Masyarakat
Untuk mengembangkan manusia Indonesia yang berkarakter teknologi, tidak lepas dari peran masyarakat. Masyarakat memiliki karakteristik yang unik dan tidak dimiliki oleh sekolah. Berbagai nilai kehidupan (ekonomi, teori, sosial politik, religi, seni, solidaritas, dan teknologi) ada di masyarakat. Karena itu, sewajarnyalah jika dalam mengembangkan manusia berkarakter teknologi bergandengan tangan dengan masyarakat, khususnya masyarakat teknologi. Tempat di mana masyarakat teknologi berkumpul memang beragam, namun tempat yang paling sarat teknologi adalah dunia usaha dan industri serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan teknologi yang berada di berbagai organisasi/instansi/institusi.

Jika jalur sekolah berperan memberikan pengetahuan, tindakan dan kebiasaan dalam rangka membentuk karakter, maka dunia usaha dan industri serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan dapat berperan memberikan pengalaman langsung yang sarat nilai pengetahuan teknologi, sikap teknologi dan keterampilan teknologi. Itulah sebabnya, Sekolah-sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi harus menjalin kerja sama yang erat dengan dunia usaha dan industri yang sarat teknologi.

Sebagai contoh, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), telah membina kerja sama dengan industri melalui Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dalam konsep PSG, siswa belajar di dua tempat, yaitu sekolah (SMK) dan di dunia usaha/industri. Di sekolah, siswa mempelajari teori dan praktik dasar kejuruan/teknologi. Di dunia usaha/industri, siswa mempelajari pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sarat teknologi. Dengan jalinan yang erat antara sekolah dan dunia usaha/industri, maka sinergi positif antara sekolah dan dunia usaha/industri akan terjadi dalam rangka pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi.

Melalui jalur masyarakat ini pula perlu diupayakan cara-cara untuk meningkatkan kemampuan "melek teknologi masyarakat". Penting untuk disadari karena tingkat melek teknologi masyarakat sangat berpengaruh terhadap pengakselerasian dalam pengembangan manusia Indonesia berkarakter teknologi, mengingat masyarakat merupakan lingkungan strategis dalam kehidupan manusia sehari-harinya.

3. Penutup
Pada bagia akhir tulisan ini, penulis mengajak semua pihak untuk mengenalkan pendidikan teknologi dasar pada semua sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama. Pendidikan teknologi dasar pada jenjang pendidikan ini sangat strategis untuk mengembangkan karakter teknologi, karena anak-anak pada jenjang pendidikan ini masih luwes untuk dikembangkan karakternya. Karena itu, penerapan pendidikan teknologi dasar yang telah dirintis di sejumlah SLTP Swasta atas bantuan Pemerintah Belanda perlu diperluas ke seluruh SD dan SLTP di Indonesia, dalam rangka membangun manusia Indonesia berkarakter teknologi.


Pustaka Acuan

Biro Pusat Statistik. 1990. Sensus Penduduk 1990. Jakarta: Biro Pusat

Statistik.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Evaluasi Kemangkusan Pencapaian Sasaran dan Program Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1994 s.d. 1997/1998. Jakarta: Badan penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dorf, R.C. 1974. Technology, society and Man. Los Angeles, California: Boyd and Fraser Publishing Company.
Dyrenfurth, Michael J. 1984. Literacy for a Technologycal World. Columbus, OH. : The National Center for Research in Vocational Education.
Goetsch, David L.& John A. Nelson. 1987. Technology and You. Albany, NY: Delmar Publisher Inc.
Lamons, C. Dale. 1984. Educational and Training for a technological World. Columbus, OH.: The National Center for Research in Vocational Education.
Levin, Henry M. 1984. Educational and jobs in a technological World.
Columbus, OH.: The National Center for Research in Vocational Education.
Nolte, Dorothy. 1977. Psychology of learning. Columbus, OH.: Ohio
Departement of Education.
Smiles, Samual. 1887. Lefe and Labor (in Psychology of learning).
Columbus, OH.: Ohio Departement of Education.
Snyder, James, F. & James A. Hales. 1981. Jakson’s Mill Industrial Arts Curriculum Theory. Washington, DC.: American Council of Industrial Arts Supervisors.
The World Bank. 1995. The World Competitiveness Report. New York: The World Bank.
United States Office of Education. 1972. Career Education Stages. Columbus, OH.: The National Center for Research in Vocational Education.

PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER DAN JARINGAN

(COMPUTER AND NETWORK BASED LEARNING)



(Disarikan dari berbagai sumber sebagai bahan diskusi kelompok

Mata Kuliah Tekinfokom pada dunia pendidikan

Program Pascasarjana Kependidikan Universitas Mulawarman)

Pendahuluan

Bayangkan jika komputer yang ada di seluruh pelosok Tanah Air di kaitkan satu dengan lainnya, dalam suatu bentuk jaringan (network) yang memungkinkan setiap komputer tersebut berinteraksi satu dengan yang lainnya, tentu saja hal ini akan menjadi suatu bentuk sistem komunikasi dengan berbagai keuntungan, hal ini bukan saja memudahkan kita untuk mengakses informasi secara detail untuk kemudian informasi tersebut dapat kita dokumenkan dengan aman, untuk kemudian suatu ketika akan dapat dengan mudah kita buka kembali, untuk berbagai keperluan.


Gambaran diatas sebenarnya hanya sebagian kecil dari manfaat yang mungkin kita bisa dapatkan ketika kita memahami secara benar aplikasi komputer dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu mengglobal beberapa dasawarsa terakhir ini. Pada perkembangan selanjutnya realitas menunjukkan bahwa aplikasi komputer dan jaringan tidak sebatas pada pembuatan, pengiriman dan penyimpanan data saja, melainkan memungkinkan kita untuk berinteraksi secara langsung bahkan pada jarak yang jauh sekalipun. Pada situasi situasi yang telah dikondisikan interaksi bahkan dapat dilakukan bukan hanya kepada satu orang, melainkan kepada seluruh komunitas pengguna jaringan tersebut, aplikasi ini dengan mudah kita lihat di dunia maya/ internet, dengan kata lain perkembangan teknologi komunikasi dan informasi secara tegas memberikan kesempatan untuk diaplikasikan dalam berbagai bidang

Sejalan dengan kemajuan teknologi jaringan dan perkembangan internet, sangatlah dimungkinkan penerapan teknologi ini di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan atau pelatihan.

Di masa datang penerapan teknologi internet di bidang pendidikan dan latihan akan sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan kualitas dan pemerataan layanan pendidikan, terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di berbagai daerah yang sangat berjauhan. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan, serta upaya untuk merealisiasikan pemerataan perolahan layanan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh undang undang.

Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan komputer dan jaringan (internet,fax, fax-internet dll) maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan latihan akan dapat diatasi, karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja.

Pada paper ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan penerapan teknologi internet dan jaringan untuk sebagai suatu bentuk metode pembelajaran, dengan memberikan beberapa informasi mengenai pengertian, kelebihan, kekurangan, serta beberapa contoh metode yang berkaitan dengan sistem pembelajaran berbasis komputer dan jaringan ini.

A. Pengertian Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan

1. Apa yang Dimaksud dengan e-Learning?


Pembelajaran elektronik atau e-Learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson, 2001). Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning. Dalam kaitan ini, yang diperlukan adalah kejelasan tentang kegiatan belajar yang bagaimanakah yang dapat dikatakan sebagai e-Learning? Apakah seseorang yang menggunakan komputer dalam kegiatan belajarnya dan melakukan akses berbagai informasi (materi pembelajaran) dari Internet, dapat dikatakan telah melakukan e-Learning?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, ilustrasi berikut ini mungkin akan dapat membantu memperjelas pengertian tentang e-Learning (Newsletter of ODLQC, 2001).

Ada seseorang yang membawa laptop ke sebuah tempat yang berada jauh di gugusan kepulauan kecil yang terpencil. Dari tempat yang sangat terpencil ini, orang tersebut mulai menggunakan laptop-nya dan melakukan akses terhadap berbagai materi program pelatihan yang tersedia. Tidak ada layanan bantuan belajar dari tutor maupun dukungan layanan belajar bentuk lainnya. Dalam konteks ini, apakah orang tersebut dapat dikatakan telah melaksanakan e-learning? Jawabannya adalah TIDAK. Mengapa? Karena yang bersangkutan di dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukannya tidak memperoleh layanan bantuan belajar dari tutor maupun layanan bantuan belajar lainnya. Bagaimana kalau yang bersangkutan mempunyai telepon genggam dan kemudian berhasil menggunakannya untuk menghubungi seorang tutor? Apakah dalam konteks yang demikian ini dapat dikatakan bahwa yang bersangkutan telah melaksanakan e-Learning? Jawabannya adalah YA.

Dari ilustrasi tersebut di atas, setidak-tidaknya dapat ditarik 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-Learning), yaitu: (a) kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (“jaringan” dalam uraian ini dibatasi pada penggunaan internet. Jaringan dapat saja mencakup LAN atau WAN). (dalam bentuk Website eLearners.com), (b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan.

Di samping ketiga persyaratan tersebut di atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya: (a) lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-Learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar, (d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar, dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.

Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-Learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001). Dalam uraian lebih lanjut, istilah “e-Learning”, “online learning” atau “pembelajaran elektronik” akan digunakan secara bergantian namun tetap dengan pengertian yang sama seperti yang telah dikemukakan.

2. Apa Fungsi Pembelajaran Elektronik?

Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).

(1) Suplemen (Tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

(2) Komplemen (Pelengkap)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast learners) diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di dalam kelas.

Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

(3) Substitusi (Pengganti)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

Alternatif model pembelajaran mana pun yang akan dipilih mahasiswa tidak menjadi masalah dalam penilaian. Karena ketiga model penyajian materi perkuliahan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika mahasiswa dapat menyelesaikan program perkuliahannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya melalui internet, atau bahkan melalui perpaduan kedua model ini, maka institusi penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu mahasiswa untuk mempercepat penyelesaian perkuliahannya.

B. Bagaimana E-Learning Dilaksanakan

Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan dalah suatu bentuk model pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi web dan internet, konsep belajar dan mengajar ini sebenarnya bukanlah barang baru, bukan juga ide ataupun pemikiran baru. Konsep bernama WBT (web based training), eLearning, web based teaching and learning, web based distance education, dsb., sudah berkembang sejak beberapa dasawarsa lalu. Namun demikian kalaupun konsep uni bukan konsep yang sama sekali baru, perkembangannya pada dunid pendidikan formal baru terjadi pada akhir 90 an.

Secara global Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan seringkali diartikan hanya sebagai e-Learning atau Distance Learning. Perkembangan Konsep E-Learning ini ditandai dengan munculnya situs-situs yang melayani proses belajar mengajar dengan berbasiskan komputer dan jaringan sejak era 15 tahun yang lalu di seluruh pelosok Internet dari yang gratis maupun yang komersial. Dunia pendidikan Kanada misalnya bahkan telah mulai mengaplikasikan sistem ini pada dunia pendidikannya, demikian juga di Amerika muncul komunitas komunitas situs e-learning yang bersifat terbuka untuk diakses siapa saja, sedangkan di dalam negeri pembelajaran menggunakan konsep ini sepertinya masih terbatas diaplikasikan di Perguruan Tinggi, UGM misalnya sejak 1998 telah mulai merintis suatu bentuk konsep pembelajaran yang mereka sebut sebagai Student Internet Center, yang memungkinkan mahasiswa bisa secara aktif mendalami pemahamannya terhadap materi perkuliahan, (student active learner – bukan Teacher Active Learner)

Konsep pembelajaran dengan menggunakan Komputer dan Jaringan memungkinkan proses pengembangan pengetahuan tidak hanya terjadi di dalam ruangan kelas saja dimana guru secara terpusat memberikan pelajaran secara searah, tetapi dengan bantuan peralatan komputer dan jaringan, para siswa dapat secara aktif dilibatkan dalam proses belajar-mengajar.

Mereka bisa terus berkomunikasi dengan sesamanya kapan dan dimana saja dengan cara akses ke sistem yang tersedia secara online. Sistem seperti ini tidak saja akan menambah pengetahuan seluruh siswa, akan tetapi juga akan turut membantu meringankan beban guru dalam proses belajar-mengajar, karena dalam sistem ini beberapa fungsi guru dapat diambil alih dalam suatu program komputer.

Disamping itu, hasil dari proses dan hasil dari belajar-mengajar bisa disimpan datanya di dalam bentuk database, yang bisa dimanfaatkan untuk mengulang kembali proses belajar-mengajar yang lalu sebagai rujukan, sehingga bisa dihasilkan sajian materi pelajaran yang lebih baik lagi.

Sebagai bagian dari perkembangan e-Learning, Web merupakan salah satu teknologi internet yang telah berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning) tersebut.
Secara umum aplikasi komunikasi di internet terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut:

1. Synchronous System

Aplikasi yang berjalan secara real time dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, Video Conference, dsb.

2. Ansynchronous System

Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: e-mail, dsb.
Di Indonesia, kalaupun perkembangan pemanfaat konsep ini terbilang berjalan lamban, Dengan fasilitas jaringan yang dimiliki oleh berbagai lembaga pendidikan atau institusi di Indonesia baik intranet maupun internet, sebenarnya sudah sangat mungkin untuk diterapkannya sistem pendukung e-Learning berbasis Web dengan menggunakan sistem synchronous atau asynchronous, secara mandiri atau digabungkan, walaupun pada dasarnya kedua sistem diatas biasanya digabungkan untuk menghasilkan suatu sistem yang lebih efektif karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Dibeberapa negara yang sudah maju dengan kondisi infrastruktur jaringan kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi multimedia secara real time seperti video conference untuk kepentingan aplikasi e-Learning, tetapi untuk kondisi umum di Indonesia dimana infrastruktur jaringannya masih relatif terbatas akan mengalami hambatan dan menjadi tidak efektif. Namun demikian walaupun tanpa teknologi multimedia tersebut, sebenarnya dengan kondisi jaringan internet yang ada sekarang di Indonesia sangat memungkinkan, terutama dengan menggunakan sistem asynchronous ataupun dengan menggunakan sistem synchronous seperti chatting yang disesuaikan dengan sistem pendukung pendidikan yang akan dikembangkan.

Beberapa di antara institusi penyelenggara e-learning dapat dikemukakan sebagai berikut:

University of Phoenix Online merupakan universitas virtual yang paling sukses di Amerika Serikat. University of Phoenix Online ini mempunyai 37.569 mahasiswa dari 78.700 mahasiswa keseluruhan, 38 kampus, dan 78 pusat-pusat kegiatan belajar yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Puerto Rico. Di samping itu, Universitas ini telah meluluskan 10.000 mahasiswa sedangkan Universitas Virtual swasta lainnya di Amerika hanya mampu meluluskan jauh di bawahnya (Pethokoukis, 2002).
Jones International University merupakan salah satu perguruan tinggi yang juga tercatat berhasil dalam menyelenggarakan e-Learning. Universitas ini mempunyai 6,000 mahasiswa yang belajar secara online (Pethokoukis, 2002).
United Kingdom Open University (UKOU) merupakan universitas terbesar penyelenggara kegiatan pembelajaran elektronik di dunia dengan 215,000 mahasiswa (Daniel, 2000).
The College of Business at the University of Tennesse memulai perkuliahan khusus secara e-Learning kepada 400 dokter yang bekerja di ruang gawat darurat di seluruh negara bagian Amerika Serikat dan di 11 negara lainnya. Perguruan tinggi yang menyelenggarakan program setahun untuk MBA bagi para dokter dengan menggunakan e-Learning dan tatap muka.
Universiti Tun Abdul Razak (UNITAR) merupakan universitas yang pertama di Malaysia maupun di kawasan Asia Tenggara yang menyajikan perkuliahan secara elektronik (e-Learning). Perkuliahan elektronik ini mulai diselenggarakan oleh UNITAR pada tahun 1998 (Alhabshi, 2002).
Universitas Terbuka (UT) telah melaksanakan ujicoba penyelenggaraan Tutorial Elektronik (Tutel) pada tahun 1999 bagi para mahasiswanya. Alasan dilakukannya ujicoba tutorial elektronik ini adalah sesuai dengan kebutuhan mahasiswa untuk membantu mereka memecahkan kesulitan yang dihadapi selama belajar mandiri (Anggoro, 2001).
Universitas Gajah Mada (UGM) telah memulai mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan internet untuk program pascasarjana di bidang pengelolaan rumah sakit dan pengelolaan layanan kesehatan pada tahun 1996 (Prabandari dkk., 1998).
Florida Virtual School merupakan salah satu dari Sekolah Menengah di Amerika Serikat yang telah berkembang pesat dalam penyelenggaraan pembelajaran elektronik. Pada tahun kelima, Sekolah Menegah ini menerima 3.505 siswa dengan mempekerjakan sekitar 41 guru secara penuh waktu dan 27 guru lainnya secara paruh waktu. Yang menjadi motto sekolah adalah "kapan saja, di mana saja, melalui jalur mana saja, dengan kecepatan apapun." (Wildavsky, 2001).
Tugas-tugas otomatisasi yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan koneksi ini adalah :

· Pemasukan informasi pengumuman oleh pengajar

· Pengiriman file-file tugas kuliah (file uploading)

· Autentifikasi pengguna situs web


C. Beberapa Model Penyelenggaraan E Learning


Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa e-learning memungkinkan pembelajaran tidak hanya berlangsung secara formal dikelas, tetapi dengan bantuan peralatan komputer dan jaringan, para siswa dapat secara aktif dilibatkan dalam proses belajar-mengajar, dalam suatu bentuk sistem pembelajaran jarak jauh tanpa terkendala oleh kondisi geografis, ruang dan waktu, berikut ini di paparkan 2 model dari banyak model penyelenggaraan e-learning dalam pembelajaran :

1. Model e-learning tutorial

Model ini telah diaplikasikan oleh UniversitasTerbuka Online, berdasarkan jenis aplikasi komunikasi yang di dilakukan dapat di bagi lagi menjadi dua, yaitu (a). Tutorial e-learning dengan memanfaatkan aplikasi e-mail internet dan (b). Tutorial dengan memanfaatkan aplikasi fax-internet.

a. Bimbingan belajar elektronik memanfaatkan aplikasi email Internet. Sistem belajar berbasis Internet yang dapat dikembangkan dapat berupa suatu sistem yang memanfaatkan aplikasi Internet yang bernama mailing-list. Pada tutorial via Internet ini pengajar akan membahas materi atau tugas secara tertulis dan kemudian tulisan tersebut didistribusikan pada seluruh mahasiswa melalui email. Untuk kemudian, ketika mahasiswa membuka Internet dan memeriksa surat elektronik/ emailnya, maka mereka dapat membaca tulisan pengajar serta memberi jawaban, komentar ataupun mengajukan pertanyaan terhadap tugas yang diberikan

b. Tutorial Elektronik via Fax-Internet

Integrasi Fax-Internet dalam sistem bimbingan belajar via Internet ini akan memperluas titik akses bagi peserta didik. Dalam konsep tutorial Fax-Internet, peserta didik mengirim atau menerima pesan melalui fax dan pengajar/ guru akan menerima atau mengirim balasan surat tersebut melalui email. Ketika menerima fax dari peserta didik, pengajar atau guru menerima fax tersebut dalam bentuk attachment (lampiran) pada surat elektronik

2. Model Computer Supported Collaboration Learning
Collaboration didefinisikan sebagai kerjasama antar peserta dalam rangka mencapai tujuan bersama. Collaboration tidak hanya sekedar menempatkan para peserta ke dalam kelompok-kelompok studi, tetapi diatur pula bagaimana mengkoordinasikan mereka supaya bisa bekerjasama dalam studi
Saat ini penelitian di bidang kolaborasi melalui internet dikenal dengan istilah CSCL (Computer Supported Collaborative Learning), dimana pada prinsipnya CSCL berusaha untuk mengoptimalkan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta dalam bentuk kerjasama dalam pemecahan masalah. Kenyataannya kolaborasi antar peserta cenderung lebih mudah dibandingkan dengan kolaborasi antara peserta dengan guru.
Gambar 1 menunjukkan konsep e-Learning dengan metoda CSCL, yang terdiri dari pemakai dan tool yang digunakan.
Pemakai terdiri dari siswa dan guru yang membimbing, dimana siswa itu sendiri terbagi menjadi siswa dan siswa lain yang bertindak sebagai collaborator selama proses belajar. Para peserta saling berkolaborasi dengan tool yang tersedia melalui jaringan intranet atau internet, dimana guru mengarahkan jalannya kolaborasi supaya mencapai tujuan yang diiginkan, sebagaimana yang diharapkan